Amanah Ayah Mengantar ke Baitullah: Sholahuddin Sinambela Berangkat dari Asrama Haji Medan di Tengah Haru dan Syukur Menuju Haji -->

Ads

ads

Amanah Ayah Mengantar ke Baitullah: Sholahuddin Sinambela Berangkat dari Asrama Haji Medan di Tengah Haru dan Syukur Menuju Haji

3DARA ADMIN
Minggu, 03 Mei 2026

Teks Foto : Sholahuddin Sinambela umur 30 Tahun Jemaah haji yang tergabung di Kloter 11 berjumlah 357 Orang (Tipikor SumseI)


Medan, ( Tipikor Sumsel ) - Perjalanan menuju Tanah Suci bagi Sholahuddin Sinambela Umur 30 tahun, menjadi jamaah termuda dari Kota Tanjung balai,, pemilik Yayasan Daarul Huffazh Centre dan jemaah haji manifest 081 asal Tanjung balai tergabung dari Kloter 11, bukan sekadar ibadah biasa. Di balik langkahnya, tersimpan kisah batin yang sangat haru, syukur, dan amanah mendalam dari orang tua yang telah berpulang.


Di tengah suasana pelepasan yang khidmat, Sholahuddin mengaku tak mampu sepenuhnya mengungkapkan perasaannya. Ia menyadari, di antara jutaan umat Islam yang mendambakan panggilan haji, hanya segelintir yang benar-benar dipilih Allah SWT menjadi tamu-Nya tahun ini ungkap nya kepada awak media di Asrama haji (Ahmed) Medan minggu malam (3/5/2026).


“Perasaan ini tidak terbayangkan. Terharu, bahagia, dan bersyukur. Sampai detik ini Allah masih menyeleksi tamu-tamu-Nya untuk sampai ke Baitullah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Kesadaran itu semakin dalam ketika ia melihat ada rekan-rekannya yang belum mendapat kesempatan berangkat. Bagi Sholahuddin, hal tersebut bukan sekadar kenyataan, tetapi pengingat kuat akan besarnya nikmat yang ia terima.


“Masih ada teman-teman kami yang belum Allah izinkan berangkat. Kami yang dimudahkan jalannya hanya bisa bersyukur dan berharap semua rangkaian ibadah berjalan lancar,” katanya.



Persiapan menuju ibadah haji telah ia jalani dengan disiplin. Selama sekitar tiga bulan mengikuti manasik, ia bersama jemaah lain dibekali kesiapan fisik dan mental, termasuk menjaga stamina melalui olahraga rutin.


“Ibadah haji ini ibadah fisik. Kami terus diingatkan untuk menjaga kesehatan, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit agar tidak memaksakan diri,” jelasnya.


Namun di balik kesiapan itu, terdapat kisah yang jauh lebih menyentuh. Keberangkatan Sholahuddin Sinambela tahun ini adalah wujud amanah dari orang tua yang belum sempat menunaikan ibadah haji. Justru dari dirinya lah, niat itu dulu berawal.


Saat masih menempuh pendidikan di Pondok Tahfizhul Qur'an Attazkiyah, di Jl. M. Yackub lubis yang kala itu juga diamanahkan sebagai imam tetap di Mesjid Al Amin, orang tua berniat memberikan hadiah membelikan Kereta sebagai bentuk apresiasi. 


Namun Sholahuddin memilih jalan berbeda—ia meminta agar dana tersebut dialihkan untuk mendaftar haji.


“Waktu itu saya bilang, tidak perlu hadiah. Lebih baik kita daftarkan haji. Itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai anak laki-laki,” kenangnya.


Takdir berkata lain. Tak lama setelah pendaftaran pada 2020, sang ayah dipanggil Allah SWT. Amanah tersebut kemudian disepakati keluarga untuk dilanjutkan oleh Solahuddin sebagai perwakilan.


“Ini mungkin jalan yang Allah tetapkan. Mudah-mudahan orang tua saya mendapatkan pahala dan tempat terbaik di sisi-Nya,” ucapnya lirih.


Meski diliputi rasa kehilangan, Sholahuddin tetap melangkah dengan penuh harapan. Ia juga mengapresiasi pelayanan haji yang dirasakannya semakin tertata, profesional, dan memberikan kenyamanan bagi jemaah.


“Pelayanan yang kami rasakan sangat baik, terprosedur dan sistematis. Kami disambut dengan baik dan dilayani maksimal. Harapan kami tentu ke depan semakin ditingkatkan,” ujarnya.


Ia pun menaruh optimisme besar terhadap masa depan pelayanan haji, seiring upaya peningkatan kapasitas jemaah dunia oleh pemerintah Arab Saudi.


“Semoga ke depan pelayanan semakin mantap dan mampu melayani lebih banyak tamu Allah,” tutupnya.


Kisah Sholahuddin menjadi cermin nyata bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan ritual, melainkan perjalanan cinta dan pengabdian. Sebuah bukti bahwa bakti kepada orang tua tak terhenti oleh waktu—bahkan terus mengalir hingga ke Tanah Suci, menyatu dalam doa di hadapan Ka’bah. ( Syafii Harahap )